Ada Big Accumulation di Saham BBRI Hari Ini

Dipublikasikan pada 12 Jan 2026 20:50 | Publikasi oleh SW. Razak
Ada Big Accumulation di Saham BBRI Hari Ini

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan momen bersejarah pada pembukaan perdagangan Senin, 12 Januari 2026, dengan menembus level psikologis 10000. Meskipun penguatan indeks kemudian sedikit menipis akibat tekanan depresiasi rupiah yang menyentuh level Rp16.848 per dolar Amerika Serikat di pasar spot, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) justru menunjukkan performa yang sangat tangguh. Emiten perbankan plat merah ini bertindak sebagai penyeimbang utama pasar saat saham rill blue chip lainnya di indeks LQ45 mengalami koreksi tajam.

Saham BBRI tercatat ditutup pada level Rp3.706 atau naik sebesar 20 poin (0,54 persen) dari harga penutupan sebelumnya. Sepanjang hari, harga bergerak dinamis dalam rentang Rp3.660 sampai Rp3.740 dengan likuiditas transaksi yang sangat tinggi. Kekuatan harga ini didorong oleh aktivitas pergerakan uang besar yang terdeteksi melakukan akumulasi masif di tengah fluktuasi pasar yang cukup tinggi.

Analisis Bandarmologi dan Konsentrasi Kekuatan Besar

Data pasar menunjukkan adanya fenomena Big Accumulation atau akumulasi besar pada saham BBRI. Berdasarkan laporan ringkasan broker, meskipun jumlah broker yang berjualan lebih banyak dibandingkan pembeli, konsentrasi pembelian berada pada pihak dengan modal besar. Tercatat hanya ada 19 broker yang melakukan pembelian neto, berbanding terbalik dengan 50 broker yang melakukan penjualan neto. Selisih negatif sebanyak 31 broker ini mengindikasikan bahwa barang sedang berpindah rill dari tangan ritel ke tangan institusi atau bandar.

Maybank Sekuritas melalui broker ZP memimpin akumulasi dengan pembelian neto senilai Rp141,9 miliar pada harga rata rata Rp3.707. Pelaku pasar mencatat bahwa ZP berperan aktif sebagai penjaga harga saat terjadi guncangan tajam di pasar. Selain itu, CGS International (YU) dan J.P. Morgan (BK) juga melakukan akumulasi besar masing masing senilai Rp85,2 miliar dan Rp40,9 miliar. Di sisi lain, broker Valbury (CP) dan Stockbit (XL) menjadi penjual terbesar dengan nilai kolektif mencapai puluhan miliar rupiah.

Arus modal asing juga mengalir deras ke saham BBRI. Pada perdagangan hari ini saja, investor global mencatatkan beli bersih sebesar Rp640 miliar. Jika ditarik lebih luas, sepanjang pekan pertama Januari 2026, aliran modal asing yang masuk ke pasar saham Indonesia telah mencapai Rp1,78 triliun dan BBRI menjadi tujuan utama koleksi asing. Kepercayaan investor institusi global ini tetap kokoh meskipun premi risiko investasi Indonesia sedikit naik ke level 69,57 bps.

Resiliensi Fundamental dan Strategi Bersih-Bersih Neraca

Stabilitas harga BBRI didukung oleh kinerja keuangan yang solid. Hingga September 2025, BBRI membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp41,2 triliun. Meskipun turun 9,1 persen secara tahunan akibat aksi pencadangan yang agresif, secara kuartalan laba rill tumbuh sangat kuat sebesar 15,5 persen. Pendapatan bunga bersih juga tumbuh menjadi Rp110,99 triliun, didukung oleh efisiensi bank yang terjaga dengan Cost to Income Ratio di kisaran 42,8 persen sampai 44,6 persen.

Manajemen BBRI juga mengambil langkah berani dengan melakukan normalisasi kualitas aset melalui strategi penghapusbukan atau write off kredit mikro lama yang tidak produktif sebesar Rp38 triliun sampai Rp40 triliun pada akhir 2025. Langkah ini dipandang sangat positif oleh investor institusi karena membebaskan neraca dari beban masa lalu. Dengan kondisi neraca yang lebih bersih, BBRI diproyeksikan mampu mencatatkan pertumbuhan laba yang lebih kencang pada tahun buku 2026.

Selain itu, transformasi digital melalui ekosistem BRImo telah menjadi tulang punggung transaksi ritel dengan jumlah pengguna mencapai 31,6 juta sampai 40 juta orang. Volume transaksi digital yang melonjak 32,6 persen secara tahunan telah berkontribusi rill pada pendapatan berbasis komisi sebesar Rp2,4 triliun. Penggunaan asisten virtual berbasis kecerdasan buatan juga terbukti meningkatkan produktivitas layanan nasabah secara signifikan.

Dividen Interim dan Proyeksi Valuasi 2026

Katalis utama yang mendorong minat beli di bulan Januari 2026 adalah pembagian dividen interim sebesar Rp137 per lembar saham dengan total nilai Rp20,6 triliun. Pembayaran dividen dijadwalkan pada 15 Januari 2026 dengan tingkat imbal hasil atau dividend yield mencapai 9,39 persen secara tahunan. Angka ini jauh mengungguli suku bunga deposito rupiah yang hanya berkisar 2,50 persen sampai 3,00 persen, sehingga memicu perpindahan dana nasabah dari simpanan ke aset saham.

Dari sisi kebijakan negara, telah terjadi pengalihan 806,1 juta saham dari PT Danantara Asset Management kepada Negara Republik Indonesia melalui Badan Pengaturan BUMN. Langkah ini merupakan bagian dari konsolidasi kontrol strategis pemerintah untuk menyelaraskan kebijakan pembangunan nasional. Di sisi makro, Bank Indonesia tetap mempertahankan suku bunga pada level 4,75 persen, sementara inflasi domestik terkendali di level 2,92 persen yang memberikan kepastian rill bagi pengelolaan biaya dana perbankan.

Para analis memberikan pandangan yang sangat optimistis terhadap masa depan BBRI. Konsensus menetapkan target harga rata rata 12 bulan di kisaran Rp4.433 sampai Rp4.579, bahkan beberapa analis mematok target tertinggi hingga level Rp5.670. Berdasarkan metode aliran kas yang didiskontokan, nilai wajar BBRI diperkirakan mencapai Rp5.719 per saham. Dengan harga saat ini di level Rp3.706, terdapat margin keamanan yang sangat luas bagi investor jangka panjang. Berinvestasi di BBRI saat ini ibarat memiliki kapal tanker raksasa yang baru saja berganti mesin rill dan siap melaju kencang di tengah samudra ekonomi global tahun 2026.

Penulis

Avatar

SW. Razak

Praktisi pasar modal dan forex dengan latar belakang kuat di analisis data selama 15 tahun. Mengembangkan dan mengeksekusi strategi investasi serta trading berbasis data, membangun model kuantitatif, melakukan backtesting, optimasi risiko, dan evaluasi performa portofolio secara disiplin.

Disclaimer

Konten ini disusun untuk knowladge. Setiap analisis atau opini yang disampaikan merupakan pandangan pribadi penulis berdasarkan referensi yang tersaji secara publik. Dapat di jadikan sebagai opini kedua sebelum memutuskan mengambil keputusan investasi. Namun tidak ada jaminan atas keakuratan atau hasil yang ditimbulkan. Anda tetap perlu melakukan riset independen sebelum mengambil keputusan investasi.