Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan performa rill yang sangat kuat pada pekan pertama perdagangan tahun 2026. Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 5 hingga 9 Januari 2026, pasar modal Indonesia menunjukkan gairah tinggi yang ditandai dengan pencapaian rekor tertinggi baru (All Time High) dan lonjakan volume transaksi harian secara konsisten. Sinergi antara partisipasi investor asing pada saham berkapitalisasi besar dan keaktifan investor lokal di sektor teknologi menjadi pilar utama penguatan indeks pekan ini.
Rangkuman pergerakan harga menunjukkan pertumbuhan rill yang dimulai sejak Senin 5 Januari 2026. Pada pembukaan pekan tersebut, IHSG langsung melonjak 1,27 persen ke level 8.859,19. Tren positif ini terus berlanjut hingga tengah pekan, di mana pada Rabu 7 Januari 2026, indeks menembus level 8.944,81. Meskipun sempat terjadi koreksi tipis pada Kamis 8 Januari 2026 ke level 8.925,47, indeks berhasil kembali menguat pada penutupan Jumat 9 Januari 2026 di level 8.936,75. Posisi ini menempatkan IHSG rill berada sangat dekat dengan level psikologis 9.000.
Data Transaksi Investor Asing dan Lokasi Arus Modal
Sepanjang pekan pertama 2026, investor asing menunjukkan kecenderungan aksi beli bersih (net buy) yang signifikan. Aliran modal asing masuk secara masif seiring dengan posisi IHSG yang berulangkali mencetak rekor. Data rill menunjukkan bahwa pada Jumat 9 Januari 2026, investor asing mencatatkan akumulasi beli bersih sekitar Rp900 miliar, sebuah angka yang menunjukkan kepercayaan rill terhadap stabilitas pasar domestik di tengah tekanan koreksi.
Berdasarkan kurasi data transaksi, saham-saham yang paling banyak menjadi incaran beli bersih investor asing rill meliputi sektor perbankan, energi, dan teknologi. Daftar saham tersebut adalah ANTM, BBCA, BRMS, ASII, MDKA, TLKM, INCO, BMRI, GOTO, dan UNTR. Fokus asing pada saham-saham blue chip ini menjadi motor utama yang menjaga kapitalisasi pasar bursa tetap berada di zona hijau. Di sisi lain, aksi jual bersih (net sell) sempat terjadi pada Kamis 8 Januari 2026, terutama pada sektor-sektor yang mengalami koreksi tajam.
Partisipasi investor menunjukkan pembagian peran yang rill di bursa. Investor asing mendominasi arus modal pada saham-saham berkapitalisasi besar, sementara investor lokal terlihat sangat aktif melakukan transaksi pada saham-saham lapis kedua dan ketiga. Sektor teknologi menjadi salah satu area di mana investor lokal memiliki tingkat partisipasi yang sangat tinggi dibandingkan investor institusi global sepanjang pekan ini.
Statistik Nilai, Volume, dan Frekuensi Transaksi
Gairah pasar modal Indonesia di awal tahun 2026 tercermin rill dari statistik perdagangan yang dirilis BEI. Rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) saham di bursa secara konsisten berada di kisaran Rp18 triliun atau lebih. Volume perdagangan harian pun mencapai angka yang sangat besar, dengan puncaknya terjadi pada Senin 5 Januari 2026 yang menembus 66,57 miliar lembar saham yang ditransaksikan rill dalam satu hari.
Lonjakan aktivitas ini juga tercatat pada frekuensi transaksi harian yang mencetak rekor baru sepanjang sejarah bursa. Pada Rabu 7 Januari 2026, frekuensi transaksi mencapai 4,54 juta kali. Peningkatan frekuensi ini dari hari-hari sebelumnya menunjukkan bahwa basis investor di Indonesia semakin meluas dan aktif melakukan perdagangan rill. Tingkat likuiditas yang tinggi ini memberikan ruang bagi pasar untuk melakukan penyesuaian harga secara organik tanpa mengalami stagnasi.
Data rill volume transaksi harian selama sepekan adalah sebagai berikut:
- Senin 5 Januari 2026: 66,57 Miliar lembar saham.
- Selasa 6 Januari 2026: 63,04 Miliar lembar saham.
- Rabu 7 Januari 2026: 65,54 Miliar lembar saham.
- Kamis 8 Januari 2026: 48,93 Miliar lembar saham.
- Jumat 9 Januari 2026: 49,95 Miliar lembar saham.
Dinamika Pergerakan Sektoral dan Rotasi Modal
Selama periode 5 sampai 9 Januari 2026, terjadi rotasi sektoral yang dinamis rill di lantai bursa. Beberapa sektor berhasil memimpin penguatan dan berada di zona hijau, sementara sektor lainnya mengalami tekanan jual yang cukup dalam. Sektor-sektor yang mencatatkan kenaikan meliputi Energi, Infrastruktur, Industri, Transportasi, dan Properti. Sektor bahan baku juga sempat menguat di awal pekan sebelum akhirnya terdampak rotasi modal.
Sebaliknya, beberapa sektor tercatat berada di zona merah. Sektor barang baku mengalami koreksi paling tajam rill sekitar 3,22 persen pada Kamis 8 Januari 2026. Sektor lain yang turut terkoreksi meliputi teknologi, kesehatan, dan konsumer baik siklikal maupun non-siklikal. Sektor keuangan, khususnya perbankan besar, bergerak sangat fluktuatif sepanjang pekan, meskipun tetap mendapatkan suntikan dana beli dari investor asing secara kumulatif.
Koreksi pada sektor barang baku menunjukkan adanya aksi ambil untung rill oleh pelaku pasar setelah penguatan signifikan di akhir tahun sebelumnya. Dinamika ini merupakan bagian dari mekanisme pasar yang sehat, di mana modal dialirkan secara rill ke sektor-sektor yang dianggap memiliki prospek pertumbuhan lebih tinggi di masa mendatang, seperti energi dan infrastruktur.