Saham APEX 5 Improving Selama 5 Hari Terakhir

Dipublikasikan pada 20 Jan 2026 06:45 | Publikasi oleh SW. Razak
Saham APEX 5 Improving Selama 5 Hari Terakhir

Pasar modal Indonesia pada awal tahun 2026 diwarnai oleh pergerakan signifikan pada sektor energi, dengan saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) menjadi salah satu emiten yang paling banyak disorot. Sebagai perusahaan penyedia jasa pengeboran minyak dan gas bumi terkemuka di Indonesia, APEX terjepit di antara peluang dari kenaikan harga komoditas global dan tantangan restrukturisasi keuangan internal yang masih berlangsung.

Dinamika Harga Saham Januari 2026: "Maduro Effect" dan Tekanan Pasar

Memasuki bulan Januari 2026, pergerakan harga saham APEX tidak lepas dari sentimen geopolitik global yang memanas. Pada 5 Januari 2026, dunia dikejutkan oleh serangan militer Amerika Serikat ke Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro. Kejadian ini memicu kekhawatiran disrupsi pasokan minyak dari negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia tersebut, yang seketika menyulut sentimen bullish pada saham-saham energi di Bursa Efek Indonesia, termasuk APEX.

Pada perdagangan 5 Januari 2026, saham APEX melonjak 8,06% dan ditutup pada level Rp268, setelah sempat menyentuh harga tertinggi harian di Rp286 dengan volume transaksi yang masif mencapai 153,3 juta saham. Kenaikan ini didorong oleh spekulasi investor bahwa ketidakstabilan di Venezuela akan meningkatkan permintaan jasa pengeboran di wilayah lain guna menutupi celah produksi global.

Namun, euforia tersebut bersifat fluktuatif. Sepanjang sisa bulan Januari, APEX menunjukkan volatilitas yang tinggi:

  • 12 Januari 2026: Harga terkoreksi tajam sebesar 6,30% ke level Rp238.
  • 13 Januari 2026: Rebound tipis 2,52% ke posisi Rp244.
  • 19 Januari 2026: Saham ditutup menguat moderat 0,85% di level Rp238.

Secara teknikal, per 19 Januari 2026, indikator RSI 14-hari berada di angka 45,389 yang menunjukkan posisi netral, sementara MACD memberikan sinyal jual di level -2,343. Rata-rata pergerakan (Moving Average) jangka panjang seperti MA200 berada di level Rp256,45, yang menandakan harga saat ini masih berada di bawah tren jangka panjangnya.

Aksi Korporasi dan Strategi APEX 2026

Manajemen APEX telah menetapkan arah kebijakan yang jelas dalam Public Expose terbaru mereka untuk menghadapi tahun buku 2026. Fokus utama perusahaan bergeser dari sekadar ekspansi armada menuju efisiensi operasional dan diversifikasi layanan.

Salah satu poin krusial dalam rencana kerja 2026 adalah perambahan ke layanan well intervention sebagai lini bisnis pelengkap. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas pendapatan (recurring job) saat aktivitas pengeboran baru sedang menurun, sekaligus memperhalus siklus pendapatan perusahaan yang selama ini sangat bergantung pada kontrak pengeboran jangka pendek.

Hingga saat ini, rig lepas pantai (offshore) milik APEX telah terikat kontrak penuh hingga tahun 2027. Untuk tetap bisa menangkap peluang tender baru tanpa mengganggu komitmen yang ada, perusahaan menerapkan strategi unik dengan menyewa rig dari luar negeri untuk kemudian disewakan kembali (re-lease) kepada klien di Indonesia. Hal ini juga dilakukan untuk menjaga fleksibilitas terhadap perubahan teknologi pengeboran tanpa harus mengeluarkan belanja modal (CAPEX) yang besar untuk pembelian aset baru.

Sebagai latar belakang, APEX sebelumnya telah sukses melaksanakan aksi korporasi besar berupa penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) atau private placement senilai Rp1,63 triliun pada tahun 2024. Aksi ini dilakukan dalam rangka konversi Obligasi Wajib Konversi (OWK) Tranche 1 menjadi saham. Pemegang saham baru hasil konversi ini melibatkan institusi finansial global seperti HSBC Bank PLC dan Qatar National Bank, yang memperkuat struktur permodalan perusahaan meskipun sempat menimbulkan efek dilusi bagi pemegang saham publik.

Situasi Fundamental dan Kondisi Keuangan APEX

Meskipun harga saham menunjukkan gairah, analisis fundamental APEX menyajikan gambaran yang lebih kompleks, ditandai dengan perbaikan laba di satu sisi, namun beban utang yang masih membayangi di sisi lain.

Hingga kuartal III tahun 2025, APEX menunjukkan performa yang menggembirakan secara operasional:

  • Laba Bersih: Perusahaan membukukan laba bersih sebesar Rp25,3 miliar, naik signifikan dibandingkan periode yang sama tahun 2024 sebesar Rp14,7 miliar.
  • Pendapatan: Selama sembilan bulan pertama 2025, pendapatan mencapai Rp1,06 triliun, tumbuh 15,4% secara tahunan (YoY).
  • EBITDA: Tercatat sebesar Rp237,8 miliar dengan margin yang sehat, didukung oleh peningkatan utilisasi rig dan efisiensi biaya operasional.

Satu fakta penting yang perlu diperhatikan investor adalah status saldo laba (retained earnings) perusahaan yang masih mencatatkan defisit akumulasi sebesar USD 125 juta per Q3 2025. Akumulasi kerugian dari tahun-tahun sebelumnya ini menjadi alasan utama mengapa APEX tidak membagikan dividen kepada pemegang saham sejak terakhir kali dilakukan pada tahun buku 2007. Secara hukum, perusahaan belum dapat membagikan keuntungan selama cadangan saldo labanya masih negatif.

APEX memiliki rasio utang yang cukup tinggi dibandingkan rekan industrinya.

  • Debt to Equity Ratio (DER): Berada di level 2,65 kali, yang berarti total utang perusahaan jauh melebihi total modalnya.
  • Total Liabilitas: Per Q3 2025 tercatat sekitar Rp2,94 triliun (setara USD 176,3 juta dalam laporan konsolidasi tertentu).
  • Price to Book Value (PBV): Di angka 0,38 - 0,43 kali, yang secara teoritis menunjukkan 

bahwa saham ini sangat murah atau undervalued karena diperdagangkan di bawah nilai bukunya. Namun, banyak analis memperingatkan adanya potensi value trap karena beban utang dan defisit yang besar tersebut.

Penopang Kinerja APEX 

Kepercayaan pasar terhadap APEX sebagian besar didorong oleh kemampuan perusahaan dalam mengamankan kontrak dari pemain besar, terutama PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM). Sepanjang tahun 2025, APEX berhasil mengantongi beberapa kontrak jasa pengeboran laut yang signifikan:

  • Maret 2025: Kontrak senilai USD 2,4 juta.
  • Mei 2025: Kontrak senilai USD 25 juta.
  • Juni 2025: Kontrak senilai USD 7,4 juta.
  • Oktober 2025: Kontrak senilai USD 13,6 juta dengan durasi pengerjaan selama 7 bulan di wilayah Delta Mahakam, Kalimantan Timur.

Perolehan kontrak-kontrak ini memastikan tingkat utilisasi rig offshore perusahaan tetap tinggi, yang pada gilirannya menstabilkan arus kas operasional (CFO).

Kesimpulan dan Proyeksi APEX 2026

Saham APEX di tahun 2026 menawarkan profil high-risk high-reward. Secara fundamental, perusahaan telah berhasil membalikkan kondisi rugi menjadi laba bersih di tingkat operasional kuartalan. Valuasi PBV yang rendah di bawah 0,5x memberikan daya tarik bagi investor yang mencari aset murah.

Namun, investor harus tetap waspada terhadap:

  1. Beban Utang: Rasio leverage yang tinggi membuat perusahaan rentan terhadap fluktuasi suku bunga.
  2. Saldo Laba Negatif: Menutup defisit ratusan juta dolar akan memakan waktu bertahun-tahun sebelum dividen dapat dibagikan kembali.
  3. Ketergantungan Kontrak: Kelangsungan usaha sangat bergantung pada perpanjangan kontrak rutin dari segelintir klien besar seperti Pertamina.

Analis dari BRI Danareksa memprediksi bahwa jika momentum perbaikan laba berlanjut dan tensi geopolitik tetap menjaga harga minyak di level tinggi, saham APEX memiliki potensi target penguatan menuju level Rp310. Sebaliknya, jika harga gagal bertahan di atas level dukungan (support) Rp224, saham ini rawan kembali memasuki fase konsolidasi panjang.

 

Penulis

Avatar

SW. Razak

Praktisi pasar modal dan forex dengan latar belakang kuat di analisis data selama 15 tahun. Mengembangkan dan mengeksekusi strategi investasi serta trading berbasis data, membangun model kuantitatif, melakukan backtesting, optimasi risiko, dan evaluasi performa portofolio secara disiplin.

Disclaimer

Konten ini disusun untuk knowladge. Setiap analisis atau opini yang disampaikan merupakan pandangan pribadi penulis berdasarkan referensi yang tersaji secara publik. Dapat di jadikan sebagai opini kedua sebelum memutuskan mengambil keputusan investasi. Namun tidak ada jaminan atas keakuratan atau hasil yang ditimbulkan. Anda tetap perlu melakukan riset independen sebelum mengambil keputusan investasi.