Saham CMRY, MYOR, CPIN. Mana Lebih Value Investing ?

3 Saham Terbaik di Sektor Konsumer CMRY, MYOR, CPIN di November 2025

Dipublikasikan pada 01 Nov 2025 15:47 | Publikasi oleh SW. Razak
Saham CMRY, MYOR, CPIN. Mana Lebih Value Investing ?

Sektor barang konsumsi selalu menjadi tempat aman bagi investor ritel Indonesia. Alasannya sederhana: orang tetap makan, tetap minum, dan tetap belanja. Tapi di tengah pasar yang makin pintar dan valuasi yang semakin mahal, tidak semua saham konsumer lagi-lagi bisa dianggap “aman”.

Tiga nama besar yang selama ini jadi langganan portofolio investor yakni Cisarua Mountain Dairy (CMRY), Mayora Indah (MYOR), dan Charoen Pokphand Indonesia (CPIN).  Kini tampil dengan wajah yang berbeda. Ketiganya masih menguasai benak pasar, namun angka-angka menunjukkan dinamika yang menarik, siapa yang masih menawarkan value ? siapa yang hanya menawarkan pertumbuhan mahal?

Mari kita bedah satu per satu dengan kacamata dua legenda value investing ala Warren Buffett dan Peter Lynch.

Saham CMRY

Nama Cisarua Mountain Dairy (CMRY) mungkin belum setenar MYOR atau CPIN di lantai bursa, tapi bisnisnya terasa dekat di lidah dan dapur banyak rumah tangga Indonesia. Produk-produk seperti susu Cimory, yogurt, dan olahan makanan premium membuatnya menempati posisi unik di segmen middle-up.

Data terbaru menunjukkan valuasi CMRY paling rendah di antara ketiga saham ini:

  • PER (TTM): 14,22
  • Price to Book: 2,69
  • EV/EBIT: 5,53
  • Earnings yield: 7,16%
  • ROE: 27,43%
  • Margin bersih: 22,28%

Dalam kamus Warren Buffett, angka seperti ini ibarat “aroma kopi pagi” — menandakan bisnis yang efisien, punya margin tebal, dan tidak dibayar terlalu mahal oleh pasar. Bahkan rasio EV/EBIT 5,53 memperlihatkan bahwa jika laba operasi stabil, nilai perusahaan bisa “dibayar kembali” hanya dalam waktu kurang dari enam tahun.

Namun di sisi lain, ada tanda yang perlu dicermati. Harga saham CMRY saat ini di Rp5.675, sedangkan estimasi harga wajarnya secara konservatif berada di kisaran Rp2.300–2.600. Artinya, pasar tampaknya sudah membayar ekspektasi pertumbuhan masa depan, bukan hanya kinerja saat ini.

Bagi investor ritel, ini mengingatkan pada pesan klasik Buffett: “It’s far better to buy a wonderful company at a fair price than a fair company at a wonderful price.”  lebih baik membeli perusahaan bagus pada harga wajar daripada perusahaan biasa pada harga murah. CMRY mungkin termasuk kategori “wonderful company”, tetapi apakah harga sekarang masih “fair”? Itu tergantung seberapa besar pertumbuhan yang bisa ia wujudkan dalam beberapa tahun ke depan.

Faktor yang juga perlu dicermati adalah siklus konversi kas (Cash Conversion Cycle). Data menunjukkan CMRY memiliki 47 hari siklus kas — artinya butuh waktu hampir dua bulan sejak barang dijual hingga uang tunai benar-benar masuk ke kas. Dalam industri makanan yang sensitif terhadap likuiditas, ini berarti manajemen kas harus ekstra hati-hati agar arus kas tetap sehat.

Namun satu hal positif: utang perusahaan tergolong rendah. Debt-to-equity ratio hanya 0,25, dan interest coverage ratio mencapai 1.031 kali. Artinya, perusahaan hampir bebas dari beban bunga yang berarti. Ini memberi ruang bagi CMRY untuk bertahan bahkan saat suku bunga naik.

Saham MYOR 

Siapa yang tak kenal Kopi Torabika, Beng-Beng, atau Roma Malkist? Semua merek itu berasal dari PT Mayora Indah Tbk (MYOR). Sebagai salah satu ikon saham konsumer Indonesia, MYOR telah menemani banyak investor sejak era 1990-an. Namun, data terbaru menunjukkan bahwa “si raksasa lama” ini mulai kehilangan sedikit stamina.

  • PER (TTM): 17,55
  • Price to Book: 3,04
  • Earnings yield: 5,74%
  • ROE: 16,38%
  • Margin bersih: 7,30%
  • Harga saat ini: Rp2.130
  • Estimasi harga wajar: Rp2.100–2.700

Secara historis, MYOR dikenal dengan kemampuan menjaga pertumbuhan penjualan stabil. Namun laporan terbaru memperlihatkan laba bersih yang menurun meskipun pendapatan naik sekitar 5–6 persen. Margin bersih yang sebelumnya dua digit kini berada di bawah 8 persen.

Dengan PER hampir 18 kali, saham ini tidak bisa lagi dikategorikan murah. Ia lebih mendekati kategori “GARP” (growth at a reasonable price) ala Peter Lynch — tumbuh dengan harga yang masih bisa diterima, tapi tidak lagi bargain.

Untuk investor jangka panjang, MYOR tetap menawarkan kelebihan: brand kuat, distribusi luas, dan bisnis yang bertahan di setiap siklus ekonomi. Namun, bagi investor value yang mencari “margin of safety”, ruang itu tampaknya sudah menipis.

Bagi trader, MYOR sering menjadi pilihan likuid — mudah keluar-masuk posisi. Tapi volatilitasnya rendah; artinya pergerakan cepat jarang terjadi kecuali ada katalis besar, seperti laporan laba kuartalan atau kenaikan harga bahan baku yang mempengaruhi margin.

Seorang trader harian mungkin akan melihat MYOR sebagai “saham stabil untuk swing pendek”, bukan untuk spekulasi agresif. Sedangkan bagi investor ritel, MYOR bisa menjadi anchor stock atau saham yang memberikan ketenangan di tengah badai volatilitas, tapi dengan ekspektasi pertumbuhan terbatas.

Saham CPIN

Kalau CMRY adalah “anak muda ambisius” dan MYOR adalah “raksasa berpengalaman”, maka Charoen Pokphand Indonesia (CPIN) adalah “raja industri yang duduk di takhta mahal”.

Sebagai pemain utama di bisnis pakan ternak dan ayam olahan, CPIN memegang peran vital dalam rantai pasok pangan nasional. Angkanya mengesankan:

  • PER (TTM): 22,92
  • Price to Book: 6,29
  • ROE: 27,43%
  • ROIC: 30,33%
  • Margin bersih: 8,35%
  • Harga saat ini: Rp4.670
  • Estimasi harga wajar: Rp4.900–5.700

Secara angka, CPIN adalah contoh efisiensi operasional. Return on Capital Employed (ROCE) di atas 30 persen menunjukkan bahwa setiap rupiah modal yang ditanam menghasilkan laba yang sangat tinggi. Namun nilai ini juga sudah “dihargai mahal” oleh pasar. Dengan PER di atas 22 dan PBV 6,29, investor kini membayar premi besar untuk kualitas CPIN.

Buffett sering berkata, “Price is what you pay, value is what you get.” Dalam kasus CPIN, nilai bisnis jelas kuat, tetapi harga yang dibayar investor sudah berada di tingkat tinggi. Untuk investor value, ini menjadi dilema klasik: perusahaan bagus, tapi mahal.

Bagi trader, CPIN sering menjadi saham dengan pergerakan cepat mengikuti berita industri unggas, harga jagung, hingga kebijakan impor. Karena volatilitas tinggi, CPIN bisa menarik untuk strategi momentum trading. Tapi risikonya juga lebih besar, terutama saat harga komoditas bahan baku naik.

Bagi investor ritel, CPIN tetap bisa menjadi bagian portofolio jangka panjang — asalkan disadari bahwa potensi kenaikan sudah terbatas kecuali laba tumbuh lebih cepat dari ekspektasi pasar.

Siapa yang Lebih “Value”?

Jika ketiga saham ini dibandingkan dari sudut pandang value investing klasik, gambarnya cukup jelas:

AspekCMRYMYORCPIN
Valuasi (PE, PBV)TermurahSedangTermahal
Margin LabaTertinggiSedangTerendah
ROE/ROICTinggiCukupSangat tinggi
Utang & LikuiditasSangat amanAmanSehat
Arus Kas Bebas (FCF)PositifPositifBesar
Harga terhadap estimasi wajarDi atas wajarSekitar wajarSedikit di bawah wajar

Dari tabel ini, CMRY terlihat paling “value”, MYOR paling “seimbang”, dan CPIN paling “premium”.

Namun, ingat pesan Buffett: value investing bukan sekadar mencari saham murah, tapi mencari bisnis hebat yang bisa tumbuh dengan harga yang masih masuk akal. Dalam konteks itu, ketiganya punya keunggulan masing-masing:

  • CMRY unggul di margin dan valuasi rendah.
  • MYOR unggul di stabilitas dan reputasi.
  • CPIN unggul di efisiensi dan skala bisnis.

Bagaimana Seharusnya Investor Ritel & Trader Bertindak?

Seperti kata Peter Lynch: “Invest in what you know.” Jika Anda mengonsumsi produk Cimory setiap minggu, paham cara kerja bisnisnya, dan yakin permintaan akan terus tumbuh, CMRY bisa masuk radar — tentu dengan mempertimbangkan valuasi.

Jika Anda ingin portofolio stabil dan tidak terlalu volatil, MYOR bisa berperan sebagai penyeimbang. Dan bila Anda percaya pada fundamental pertanian dan protein hewani, CPIN bisa menjadi “blue-chip sektor pangan”.

Namun apa pun pilihan Anda, gunakan margin of safety — selisih antara harga beli dan nilai intrinsik yang cukup lebar untuk menanggung kesalahan prediksi. Value investing adalah permainan kesabaran, bukan kecepatan.

Trader bisa memanfaatkan momen saat ketiga saham ini mengumumkan laporan keuangan, dividen, atau aksi korporasi. Misalnya:

  • CMRY bisa menarik saat ekspansi produk baru.
  • MYOR sering sensitif terhadap pergerakan harga bahan baku dan ekspor.
  • CPIN sangat reaktif terhadap berita harga jagung dan kebijakan impor ayam.

Namun, disiplin adalah kunci. Trader harus menyiapkan strategi keluar yang jelas: target profit dan batas rugi (stop loss). Jangan bertahan dalam posisi kalah karena “percaya fundamental”, karena pendekatan trader berbeda dengan investor jangka panjang.

Buffett selalu mengingatkan: “You don’t need to be an expert in every company. You only need to understand a few.”

Artinya, investor ritel tidak perlu membeli semua saham bagus. Cukup pilih beberapa yang benar-benar dipahami, dengan harga wajar dan prospek panjang.

Sementara Lynch menekankan pentingnya pertumbuhan. Ia suka perusahaan yang punya story sederhana tapi kuat — misalnya ekspansi produk baru, pasar luar negeri, atau peningkatan distribusi. Dalam hal ini, CMRY punya cerita pertumbuhan merek, MYOR punya stabilitas ekspor, CPIN punya kekuatan jaringan nasional.

Keduanya sepakat dalam satu hal, hindari membeli hanya karena “ramai di berita” atau “naik belakangan ini.” Sebaliknya, beli karena memahami bisnis dan merasa nyaman menyimpannya beberapa tahun ke depan.

 

Penulis

Avatar

SW. Razak

Praktisi pasar modal dan forex dengan latar belakang kuat di analisis data selama 15 tahun. Mengembangkan dan mengeksekusi strategi investasi serta trading berbasis data, membangun model kuantitatif, melakukan backtesting, optimasi risiko, dan evaluasi performa portofolio secara disiplin.

Disclaimer

Konten ini disusun untuk knowladge. Setiap analisis atau opini yang disampaikan merupakan pandangan pribadi penulis berdasarkan referensi yang tersaji secara publik. Dapat di jadikan sebagai opini kedua sebelum memutuskan mengambil keputusan investasi. Namun tidak ada jaminan atas keakuratan atau hasil yang ditimbulkan. Anda tetap perlu melakukan riset independen sebelum mengambil keputusan investasi.