Screening Teknikal Untuk Mencari Momentum Harga

Dipublikasikan pada 06 Aug 2025 20:30 | Publikasi oleh SW. Razak
Screening Teknikal Untuk Mencari Momentum Harga

Berburu saham yang memiliki momentum kuat bukan sekadar menatap angka di layar. Pasar modal Indonesia terdiri dari ratusan saham dengan volatilitas, likuiditas, dan tingkat pertumbuhan yang beragam. Dalam kondisi seperti itu, pendekatan teknikal membantu kamu mengidentifikasi saham yang momentum harganya sedang meningkat sehingga potensi keuntungan lebih besar. Screening teknikal menggunakan filter berbasis data untuk menyaring saham berdasarkan pergerakan harga, volume, indikator momentum, serta posisi relatif terhadap rata‑rata bergerak. Artikel ini menjelaskan setiap filter teknikal utama yang sering digunakan dalam screener, menjabarkan parameter rill, memberikan konteks di balik angka, dan menyesuaikannya dengan realitas Bursa Efek Indonesia (BEI).

Mengapa Momentum Penting Dalam Trading Saham

Momentum menggambarkan kekuatan dan kecepatan pergerakan harga. Trader momentum membeli ketika harga bergerak cepat ke atas dengan harapan bahwa tren tersebut akan berlanjut. Dalam prakteknya, momentum tercermin dari kombinasi kenaikan harga, peningkatan volume, dan sentimen pasar yang positif. Di BEI, saham yang memiliki momentum kuat sering kali diasosiasikan dengan sektor tertentu, misalnya batubara saat harga komoditas global naik. Melalui screening teknikal, kamu dapat menyaring saham yang memenuhi kriteria momentum tertentu sebelum melakukan analisis lebih mendalam. Berikut beberapa indicator indicator penting yang dapat digunakan dalam screening saham berdasarkan momentum teknikal. 

  1. Relative Strength Rating (RS Rating); RS Rating adalah ukuran kinerja suatu saham dibandingkan keseluruhan pasar atau indeks acuan dalam periode tertentu. Nilai RS Rating biasanya berkisar antara 0 hingga 100. Semakin tinggi nilainya, semakin baik performa saham dibanding pasar. Banyak screener global menggunakan RS Rating di atas 80 sebagai sinyal bahwa saham tersebut outperform dibanding rekan‑rekannya. Untuk pasar Indonesia, kamu bisa menggunakan pendekatan serupa, yakni dengan pilih saham dengan RS Rating ≥ 80. Artinya kinerja harga saham tersebut berada di 20 persen teratas dibandingkan seluruh saham di BEI. RS Rating membantu mengidentifikasi saham yang sudah menunjukkan momentum kuat sehingga kamu tidak perlu menebak arah pasar.
  2. Volume vs Moving Average Volume ; Volume ibarat tenaga penggerak bagi harga. Artikel analisis teknikal di Dupoin menyoroti bahwa volume adalah energi di balik pergerakan harga; ketika volume naik, tren harga lebih mungkin berlanjut. Sebaliknya, volume rendah menandakan partisipasi minim dan potensi pergerakan palsu. Salah satu cara mengukur kekuatan volume adalah membandingkannya dengan rata‑rata volume jangka pendek, misalnya MA20 (moving average 20 hari). Jika volume hari ini lebih dari dua kali rata‑rata volume MA20, berarti terjadi lonjakan partisipasi signifikan. Lonjakan ini seringkali menjadi pemicu kenaikan harga lanjutan, terutama jika disertai dengan pemecahan level resistance penting. Screener teknikal dapat menggunakan filter Volume > 2 × Volume MA20 untuk menyorot saham yang mengalami lonjakan partisipasi. Dikutip dari Dupoin, bar volume yang menembus di atas rata‑rata volume mengindikasikan momentum kuat dan bisa menjadi sinyal entri. Namun, filter ini harus dipadukan dengan indikator lain seperti posisi harga terhadap MA10 atau MA200 untuk memastikan bahwa volume tinggi tersebut mengonfirmasi tren yang sedang berlangsung, bukan hanya spekulasi jangka pendek.
  3. Nilai Transaksi Harian (Value) dan Likuiditas Pasar ; Likuiditas adalah unsur penting bagi trader. Saham dengan nilai transaksi harian rendah cenderung sulit dibeli atau dijual dalam jumlah besar tanpa mempengaruhi harga. Oleh karena itu, banyak screener menetapkan nilai transaksi minimum, misalnya ≥ Rp100 juta per hari. Angka ini memastikan bahwa saham memiliki cukup likuiditas dan meminimalkan risiko slippage saat masuk dan keluar pasar. Di BEI, likuiditas bervariasi tergantung kapitalisasi pasar dan sektor. Saham blue chip seperti BBRI atau TLKM memiliki transaksi harian miliaran rupiah, sedangkan saham lapis dua mungkin hanya beberapa ratus juta. Memilih filter nilai transaksi membantu menjaga efisiensi eksekusi dan menghindari saham gorengan.
  4. Price Crosses MA10 ; Rata‑rata bergerak (moving average atau MA) merupakan alat dasar untuk menghaluskan fluktuasi harga dan mengidentifikasi tren. Ketika harga menembus MA10 dari bawah ke atas, sinyal tersebut menunjukkan bahwa momentum jangka pendek berubah menjadi bullish. MA10 merupakan rata‑rata harga selama 10 hari terakhir; pergerakannya sensitif terhadap perubahan tren sehingga cocok digunakan sebagai sinyal awal. Sementara investor global banyak menggunakan MA50 dan MA200, di pasar Indonesia trader harian sering memakai MA5 dan MA10 untuk menangkap pergerakan cepat, terutama pada saham dengan volatilitas tinggi. Filter Harga > MA10 dalam screener membantu menemukan saham yang baru memulai tren naik jangka pendek. Namun, karena MA10 sangat reaktif, sinyal palsu sering terjadi; karenanya filter ini sebaiknya dikombinasikan dengan indikator volume dan momentum lain untuk konfirmasi.
  5. Price vs MA200 ; Jika MA10 digunakan untuk menangkap momentum jangka pendek, MA200 adalah barometer tren jangka panjang. Artikel Investopedia tentang pola golden cross menjelaskan bahwa sinyal bullish muncul saat moving average jangka pendek seperti 50‑day atau 10‑day melintasi moving average jangka panjang seperti 200‑dayPoin kunci adalah: harga yang berada di atas MA200 menandakan bahwa saham berada dalam uptrend panjang. Hal ini relevan bagi investor yang tidak ingin melawan tren utama. Di pasar Indonesia, filter Harga > MA200 berguna untuk menyaring saham yang berada dalam momentum bullish struktural. Sebaliknya, menghindari saham yang di bawah MA200 membantu kamu menjauhi tren turun yang berkepanjangan.
  6. 1 Month, 3 Month, dan YTD Price Return ; Return harga dalam jangka waktu tertentu adalah indikator momentum sederhana namun efektif. Banyak screener menyediakan kolom 1M return, 3M return, dan Year‑to‑Date (YTD) return yang menunjukkan persentase kenaikan harga dalam satu bulan, tiga bulan, dan sejak awal tahun. Filter yang umum digunakan adalah 1M return > 5 %, 3M return > 10 %, dan YTD return > 15 %. Ambang batas ini menunjukkan bahwa harga telah bergerak naik secara konsisten; semakin tinggi return, semakin kuat momentumnya. Di pasar Indonesia, saham lapis satu sering mencatat return tinggi karena faktor musiman atau rilis kinerja keuangan. Dengan membatasi screening pada saham yang mencatat return di atas ambang tersebut, kamu fokus pada saham yang sedang mendapat dukungan kuat dari pelaku pasar. Namun, return tinggi juga dapat mengindikasikan overbought; karenanya harus dikombinasikan dengan indikator lain seperti RSI.
  7. 52‑Week High dan 52‑Week Low ; Pencapaian harga tertinggi dalam 52 minggu sering menjadi sinyal kekuatan momentum. Saham yang mendekati atau menembus 52‑week high menunjukkan bahwa pembeli bersedia membayar lebih tinggi daripada harga setahun terakhir. Dalam screener, filter harga mendekati 52‑week high dapat diatur, misalnya dalam jarak 5 % dari puncak. Kenaikan melewati 52‑week high sering disertai lonjakan volume; kombinasi ini menandakan breakout yang valid. Sebaliknya, saham yang berada di dekat 52‑week low cenderung mengalami tekanan jual terus‑menerus dan sering disebut jenuh jual. Meskipun beberapa investor value mencari saham yang menukik, bagi trader momentum lebih baik menghindari saham mendekati 52‑week low karena tren turun jangka panjang belum selesai. Prinsip utamanya adalah mengikuti tren, bukan melawannya.
  8. Relative Strength Index (RSI) ; Relative Strength Index (RSI) adalah osilator momentum yang menilai kecepatan dan perubahan pergerakan harga. RSI dihitung dari 0 hingga 100; nilai di atas 70 menandakan kondisi overbought, sedangkan di bawah 30 menunjukkan oversold. Indikator ini menyoroti apakah momentum kenaikan sudah terlalu jenuh dan berpotensi koreksi atau sebaliknya. Ketika RSI melampaui 70 di tengah tren naik, ada kemungkinan momentum akan melambat. Dalam konteks screening, filter RSI < 30 dapat menandai saham yang oversold namun berpotensi mengalami rebound, sedangkan RSI > 70 dapat menandai saham yang terlalu cepat naik. Namun RSI merupakan indikator lagging; beberapa trader lebih fokus pada divergensi antara RSI dan harga untuk mengantisipasi pembalikan arah. Karena itu, interpretasi RSI sebaiknya dilakukan bersama indikator lain seperti MACD atau ADX.
  9. MACD Line > Signal Line ;  MACD (Moving Average Convergence Divergence) adalah indikator yang memanfaatkan perbedaan antara dua EMA (Exponential Moving Average). Dalam praktiknya, sinyal bullish muncul ketika garis MACD melintasi garis sinyal dari bawah ke atas. Investopedia menjelaskan bahwa perpotongan tersebut diartikan sebagai momentum naik karena EMA jangka pendek meningkat lebih cepat dari EMA jangka panjang. Ini sejalan dengan filter MACD line > Signal line, yang mengidentifikasi saham dengan kecenderungan naik. Sebaliknya, ketika MACD berada di bawah garis sinyal, momentum bearish lebih dominan. MACD juga membantu mengidentifikasi divergensi—misalnya harga membuat puncak baru tetapi MACD menurun—yang sering menjadi pertanda pelemahan tren. Untuk screener Indonesia, MACD efektif dipadukan dengan filter volume dan MA untuk memastikan sinyal yang lebih kuat.
  10. Stochastic %K > %D: Menangkap Pembalikan Pendek ; Oscillator Stochastic mengukur posisi harga penutupan terhadap rentang harga tertentu dalam periode tertentu. Rumus ini menghasilkan dua garis: %K (garis cepat) dan %D (garis lambat atau rata‑rata dari %K). Ketika %K melintasi %D dari bawah ke atas, ini menunjukkan momentum kenaikan jangka pendek. Sebaliknya, persilangan ke bawah menandakan potensi koreksi. Filter Stochastic %K > %D dalam screener dapat memunculkan saham yang baru mulai bergerak naik setelah fase konsolidasi. Meskipun oscillator ini sensitif terhadap fluktuasi jangka pendek dan dapat menghasilkan banyak sinyal palsu, ia menjadi efektif jika dikombinasikan dengan indikator tren seperti MA200 atau ADX untuk konfirmasi. Trader yang agresif menggunakan Stochastic pada timeframe 14 hari; namun di BEI, timeframe 14 atau 20 hari lebih populer untuk menangkap pergerakan jangka menengah.
  11. Average Directional Index (ADX); Average Directional Index (ADX) menilai kekuatan tren tanpa memperhatikan arah. ADX di bawah 20 mengindikasikan pasar sideways, nilai 20‑25 mengisyaratkan tren mulai terbentuk, sedangkan nilai di atas 25 atau 50 menandakan tren kuat atau sangat kuat. Bahkan tabel nilai di Investopedia menegaskan bahwa ADX 25‑50 menunjukkan tren kuat, 50‑75 sangat kuat, dan 75‑100 sangat kuat ekstrem. Bila digabungkan dengan garis +DI dan -DI, persilangan +DI di atas -DI disertai ADX > 20 menjadi konfirmasi tren naik, sedangkan -DI di atas +DI plus ADX > 20 mengonfirmasi tren turun. Dalam screener, filter ADX > 20 membantu mengeliminasi saham yang bergerak sideways dan fokus pada yang sedang dalam tren jelas. Ketika ADX menanjak dari bawah 20 menuju atas 25, seringkali terjadi breakout. Oleh karena itu, setting ADX > 20 atau > 40 (untuk tren sangat kuat) cocok untuk menyaring saham momentum di BEI.
  12. ATR Breakout ; Average True Range (ATR) mengukur volatilitas rata‑rata dengan menghitung rentang harga tertinggi dan terendah dalam satu periode. ATR tidak menunjukkan arah tetapi mengukur besarnya pergerakan. Investopedia menyatakan bahwa nilai ATR yang tinggi menunjukkan volatilitas tinggi; nilai ini sering digunakan sebagai basis trailing stop untuk mengelola risiko. Ketika harga penutupan bergerak lebih dari satu ATR di atas penutupan sebelumnya, hal itu menunjukkan breakout signifikan. Dalam screening teknikal, filter ATR Breakout dapat diatur sebagai persentase tertentu di atas ATR harian, misalnya jika range harga hari ini melampaui 1,5 × ATR 20 hari. Saham dengan ATR tinggi seringkali bergerak cepat; karena itu perlu dipadukan dengan ADX untuk memastikan bahwa volatilitas tinggi tersebut diarahkan oleh tren jelas, bukan volatilitas acak.

Parameter dan Batasan

Berikut ringkasan parameter teknikal yang sering digunakan dalam screener untuk mencari momentum pada saham BEI, beserta ambang batas yang direkomendasikan dan alasan teknis di baliknya:

IndikatorAmbang Penjelasan & Konteks
RS Rating> 80Menunjukkan saham berada di 20 % teratas dalam hal kinerja harga dibandingkan pasar. Cocok untuk mengidentifikasi saham yang outperform.
Volume vs MA20Volume > 2 × MA20Volume di atas rata‑rata 20 hari menandakan lonjakan partisipasi; menurut Dupoin, volume yang menembus di atas MA volume mengindikasikan momentum kuat dan potensi sinyal entri.
Nilai Transaksi Harian≥ Rp100 jutaMenjamin likuiditas memadai sehingga order buy/sell dapat dieksekusi tanpa slippage besar; menyingkirkan saham gorengan.
Price > MA10Harga menembus MA10Menandakan momentum jangka pendek mulai berubah ke arah bullish; dipadukan dengan volume untuk menghindari sinyal palsu.
Price > MA200Harga di atas MA200Menegaskan uptrend jangka panjang; terkait konsep golden cross di mana MA jangka pendek melintasi MA panjang.
Return 1M> 5 %Saham menunjukkan kenaikan setidaknya lima persen dalam satu bulan; sinyal awal momentum.
Return 3M> 10 %Kenaikan berkelanjutan selama tiga bulan; sinyal bahwa tren mungkin berlanjut.
Return YTD> 15 %Kinerja sejak awal tahun menegaskan kekuatan fundamental dan momentum.
52‑Week HighHarga mendekati / menembus puncakMemperlihatkan breakout dan minat beli kuat; catat bahwa volume harus mengonfirmasi.
52‑Week LowHindari / sinyal jenuh jualSaham yang mendekati 52‑week low biasanya dalam downtrend panjang; hindari bagi trader momentum.
RSI< 30 (oversold) / > 70 (overbought)RSI di bawah 30 menandakan oversold, potensi rebound; di atas 70 menandakan overbought, potensi koreksien.wikipedia.org.
MACDMACD line > Signal lineSinyal bullish crossover saat garis MACD melintasi garis sinyal dari bawah; diindikasikan sebagai momentum naik.
Stochastic%K > %DMenandakan momentum naik jangka pendek; cocok untuk menangkap pembalikan singkat.
ADX> 20 atau > 40ADX di atas 20 mengindikasikan tren mulai terbentuk; >40 menunjukkan tren sangat kuat.
ATR BreakoutATR tinggi, close > 1,5 × ATRATR tinggi menandakan volatilitas; penutupan di atas 1,5 × ATR sinyal breakout.

Mengombinasikan Indikator Untuk Screening Efektif

Satu indikator tidak dapat dijadikan patokan tunggal. Trader berpengalaman mengombinasikan beberapa filter untuk memperbesar kemungkinan sukses. Misalnya, pilih saham dengan RS Rating di atas 80, volume > 2 × MA20, harga di atas MA200, ADX > 25, dan MACD line > signal line. Kombinasi ini menunjukkan bahwa saham outperform pasar, likuiditas tinggi, berada dalam uptrend jangka panjang, tren kuat, dan momentum jangka pendek sedang meningkat. Jika RSI mendekati 70, kamu harus berhati‑hati terhadap overbought dan menunggu pullback atau divergensi untuk menambah posisi. Parameter ini harus disesuaikan dengan sektor; saham teknologi atau konsumer defensif mungkin memiliki dinamika berbeda dibanding saham pertambangan.

Menghindari Value Trap dan Noise

Screening teknikal fokus pada momentum, tetapi kamu perlu waspada terhadap value trap situasi di mana saham tampak murah atau oversold namun fundamentalnya memburuk. Misalnya, saham tambang yang turun hingga 52‑week low mungkin tampak menarik, tetapi jika harga komoditas global masih tren turun, saham tersebut cenderung melanjutkan penurunannya. Indikator teknikal harus dikombinasikan dengan analisis fundamental seperti rasio hutang (DER) dan pertumbuhan laba. Selain itu, hindari terlalu sering bergantung pada indikator overbought/oversold; RSI di atas 70 tidak selalu berarti harga harus koreksi, terutama di pasar bull yang kuat. Selalu perhatikan konteks makro seperti kebijakan suku bunga, rilis laba, dan sentimen pasar.

Kesimpulan

Screening teknikal adalah alat yang ampuh untuk menyaring saham dengan momentum harga rill. Dengan memanfaatkan indikator seperti volume versus MA20, RSI, MACD, ADX, dan ATR, kamu dapat menentukan saham mana yang berada dalam tren kuat dan memiliki potensi breakout. Namun, indikator ini bukan jaminan keberhasilan; disiplin dan kombinasi dengan analisis fundamental tetap diperlukan. Dalam pasar yang dinamis seperti BEI, memahami konteks di balik angka seperti dampak volume terhadap tren dan penggunaan moving average untuk mengidentifikasi tren jangka Panjang akan meningkatkan kualitas keputusanmu. Dengan menerapkan filter teknikal secara konsisten, kamu dapat mencari momentum harga dari pola grafik dan meningkatkan peluang meraih keuntungan.

Penulis

Avatar

SW. Razak

Praktisi pasar modal dan forex dengan latar belakang kuat di analisis data selama 15 tahun. Mengembangkan dan mengeksekusi strategi investasi serta trading berbasis data, membangun model kuantitatif, melakukan backtesting, optimasi risiko, dan evaluasi performa portofolio secara disiplin.

Disclaimer

Konten ini disusun untuk knowladge. Setiap analisis atau opini yang disampaikan merupakan pandangan pribadi penulis berdasarkan referensi yang tersaji secara publik. Dapat di jadikan sebagai opini kedua sebelum memutuskan mengambil keputusan investasi. Namun tidak ada jaminan atas keakuratan atau hasil yang ditimbulkan. Anda tetap perlu melakukan riset independen sebelum mengambil keputusan investasi.