Dalam dunia investasi saham, investor dihadapkan pada banjir data – mulai dari indikator fundamental perusahaan hingga sinyal teknikal pergerakan harga. Namun, tidak semua data tersebut memberikan “signal” yang berguna. Banyak di antaranya hanyalah “noise” atau gangguan belaka. Istilah “Angka Tipu-Tipu” dapat digunakan untuk menyebut angka-angka atau metrik yang terlihat spektakuler dalam hasil screening data, tetapi sebenarnya menyesatkan dan tidak berkelanjutan. Investor perlu waspada terhadap jebakan angka seperti ini agar tidak mengambil keputusan yang keliru.
Sebagai contoh, saham dengan valuasi sangat murah (misalnya rasio PER atau PBV rendah) kerap menarik minat investor karena tampak “murah”. Padahal, harga saham yang murah tidak selalu berarti baik. Bisa jadi justru sebuah jebakan yang membuat investor merugi. Fenomena inilah yang sering disebut value trap, yaitu saham yang terlihat undervalued namun tidak kunjung naik harganya bahkan cenderung turun. Jika investor hanya berpatokan pada angka-angka valuasi sederhana tanpa memahami bisnis perusahaan, ia akan mudah sekali terjebak value trap: sahamnya memang murah, tapi harganya tak kunjung naik dalam waktu lama. Bahkan ketika indeks pasar sudah merangkak naik .
Demikian pula di analisis teknikal, lonjakan harga atau volume secara tiba-tiba dalam daftar top gainers bisa terlihat seperti “sinyal” positif. Kenyataannya, pergerakan anomali tanpa dukungan fundamental itu bisa jadi “angka tipu-tipu” belaka. Pasar modal Indonesia mengenal istilah “saham gorengan” untuk saham-saham yang pergerakan harganya tidak didukung kinerja fundamental – naik turun secara tidak wajar akibat permainan spekulan . Angka-angka fantastis pada pergerakan saham gorengan ini dapat menggoda investor pemula, padahal sering berujung jebakan yang membuat mereka “nyangkut” di harga tinggi.
Modul ini akan membahas beberapa contoh kasus dimana data hasil screening baik fundamental maupun teknikal ternyata menipu (noise) alih-alih memberi signal yang valid. Kita akan mengulas penyebab munculnya jebakan “angka tipu-tipu”, motif di balik fenomena tersebut, serta jenis data apa saja yang sering mengandung jebakan demikian. Tujuannya adalah memberikan pemahaman bahwa tidak semua output screening data layak ditindaklanjuti; investor perlu memilah mana data yang benar-benar signal dan mana yang sebaiknya diabaikan sebagai noise. Semuanya disajikan berdasarkan data, riset, fakta, serta kondisi nyata di Pasar Modal Indonesia – tanpa opini atau preferensi pribadi.
“Angka Tipu-Tipu” dalam Data Fundamental
Pada analisis fundamental, investor sering menggunakan stock screener dengan filter tertentu untuk menemukan saham menarik. Berikut beberapa skenario di mana hasil screening menampilkan angka fundamental fantastis yang menipudan bisa berbahaya jika ditelan mentah-mentah. Berikut beberapa studi kasus data fundamental yang memuat value trap :
Saham “Murah” dengan Valuasi Rendah (Value Trap)
Salah satu jebakan umum adalah saham-saham yang tampil sangat murah berdasarkan rasio valuasi seperti PER (Price to Earnings Ratio) atau PBV (Price to Book Value). Misalnya, saham yang diperdagangkan dengan PER hanya 4x atau PBV < 1x akan muncul di screener sebagai saham undervalued. Namun, angka rendah ini bisa menipu. Value trap terjadi ketika saham berharga murah tersebut sebenarnya tidak memiliki prospek kenaikan.
Contoh :

Saham harga gocap (Rp50) seperti PT Mas Murni Indonesia Tbk (MAMI). Secara valuasi, PBV MAMI hanya sekitar 0,5x sekilas sangat murah (di bawah 1x nilai bukunya). Data ini sempat menarik spekulan hingga harga saham MAMI melonjak sesaat, namun akhirnya anjlok kembali ke level gocap dan mandek di sana. Secara historis kinerja laba MAMI memang buruk (sering merugi), sehingga wajar valuasinya rendah dan harga sahamnya sulit naik. MAMI bahkan mendapat banyak notasi khusus dari BEI karena permasalahan kinerja, menandakan risiko tinggi. Kasus seperti MAMI memperlihatkan bahwa rasio murah tanpa didukung fundamental yang solid hanyalah angka kosongbagi investor jangka panjang.

Contoh Lainnya :

Kategori value trap lainnya adalah perusahaan yang dulunya bagus tapi kemudian merosot. Misal kasus PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN). Awalnya emiten tambang batubara yang cukup profitable (menghasilkan batubara kualitas tinggi). Saham BORN pernah berjaya, namun ketika siklus bisnis berbalik dan kinerja keuangannya menurun, harga sahamnya anjlok terus hingga valuasinya tampak super murah (PBV bahkan mendekati nol). Investor yang tertarik melihat PBV nol tersebut mungkin berpikir “asetnya besar dibanding harga saham”. Kenyataannya, BORN akhirnya delisting dari BEI karena prospek bisnisnya suram. Ini menggarisbawahi bahwa valuasi rendah bisa jadi pertanda masalah serius, bukan kesempatan emas.

Mengapa jebakan value trap seperti ini bisa terjadi? Analisis menunjukkan beberapa penyebab fundamental, misalnya :
- Perusahaan gagal mengelola keuangan hingga pendapatan dan laba terus turun,
- Persaingan bisnis ketat tanpa inovasi membuat pangsa pasar hilang, atau
- Siklus industri melemah sehingga prospek jangka pendek suram.
Faktor-faktor tersebut membuat kinerja perusahaan redup, sehingga meskipun metrik seperti PER/PBV jadi rendah, tidak ada katalis pertumbuhan ke depan. Dengan kata lain, angka valuasi murah tersebut adalah “tipu-tipu”murah karena memang kualitas bisnisnya rendah.
Selain rasio valuasi, hasil screening berbasis pertumbuhan laba juga bisa menjebak. Terkadang kita menemukan emiten dengan pertumbuhan laba atau EPS (Earnings per Share) ratusan persen year-on-year, yang sekilas menandakan kinerja cemerlang. Namun, investor harus waspada: apakah pertumbuhan fantastis itu berkelanjutan atau hanya anomali sekali waktu? Seringkali, lonjakan laba besar disebabkan oleh penjualan aset, keuntungan kurs, atau pendapatan non-operasional lain yang sifatnya one-off. Jika screener tidak dilihat mendalam, kita bisa mengira perusahaan berhasil “turnaround” padahal itu hanya efek sementara.
Contoh :
Kasus terkenal adalah laporan keuangan Garuda Indonesia (GIAA) tahun 2018. Dalam hasil RUPS 2019 terungkap Garuda membukukan laba bersih US$ 809 ribu (Rp 11,3 miliar) untuk tahun 2018 – padahal tahun sebelumnya rugi besar US$ 216,5 juta . Angka laba ini naik drastis dan tentu muncul di layar banyak investor sebagai tanda perbaikan kinerja. Setelah ditelusuri, ternyata laba tersebut “ajaib” karena termasuk pengakuan pendapatan dari piutang kerjasama dengan Mahata Aero Teknologi senilai USD 239 juta yang seharusnya belum boleh diakui. Dua komisaris Garuda menolak menandatangani laporan keuangan 2018 karena pencatatan itu menyalahi standar akuntansi (PSAK 23). Artinya secara fundamental laba itu semu. Benar saja, otoritas (OJK dan BEI) kemudian memberi sanksi dan meminta Garuda merevisi laporan keuangannya. Kasus Garuda ini menunjukkan contoh “angka tipu-tipu” di data fundamental. Laba positif yang dilaporkan ternyata tidak berasal dari operasional murni, melainkan hasil rekayasa akuntansi untuk mempercantik kinerja. Investor yang hanya melihat sekilas angka laba Rp11 miliar (vs rugi tahun lalu) tanpa menggali sumbernya bisa terkecoh menganggap Garuda sudah pulih, padahal fundamental intinya belum berubah.

Dividen yield yang kelewat tinggi dalam hasil screening, juga bisa dijadikan value trap. Terkadang ada emiten dengan dividend yield dua digit persen, yang bagi pemburu deviden terlihat menarik. Namun perlu dicek: apakah dividen besar itu rutin dari laba operasional, atau hanya sekali akibat penjualan aset? Yield tinggi sementara bisa memerangkap investor membeli sahamnya, lalu di tahun berikutnya dividennya turun drastis atau nihil. Intinya, setiap metrik fundamental yang terlalu ekstrem perlu diinvestigasi lebih lanjut sumber dan keberlanjutannya. Angka-angka fantastis seperti laba tumbuh ratusan persen, PER sangat rendah, PBV < 1, atau yield tinggi bisa menjadi noise apabila tidak didukung kualitas fundamental dan prospek bisnis yang nyata.
Sebagai pembelajaran, jangan pernah terpaku pada satu dua angka saja. Seperti diingatkan para analis, menilai saham hanya dari P/E dan PBV ibarat mencari jodoh dengan satu kriteria saja – sangat rentan salah. P/E rendah bisa menutupi fakta perusahaan berutang tinggi atau prospek mandek . PBV rendah bisa terjadi karena aset perusahaan tidak produktif atau bisnisnya sunset. Data fundamental harus dilihat secara holistik: cek kualitas laba (apakah didukung arus kas), cek sumber pertumbuhan (organik atau sekali saja), bandingkan dengan rata-rata industri, dan pantau siklus sektor terkait. Dengan begitu, investor dapat memilah mana angka yang benar-benar signal tren positif, dan mana yang hanya noise yang menyesatkan.
Contoh “Angka Tipu-Tipu” dalam Data Teknikal
Selain fundamental, jebakan “angka tipu-tipu” juga marak dalam data teknikal, terutama terkait pergerakan harga dan volume saham. Di era informasi instan, banyak investor menggunakan fitur screener teknikal atau sekadar melihat daftar top movers harian untuk mencari peluang trading. Namun, perlu disadari bahwa angka-angka perubahan harga yang sensasional bisa jadi noise akibat manipulasi pasar atau euforia sesaat.
Pasar Modal Indonesia mengenal fenomena “saham gorengan”, yaitu saham dengan pergerakan harga sangat volatil dan tak wajar yang tidak sejalan dengan fundamental perusahaan . Ciri-ciri saham gorengan antara lain naik turun drastis dalam waktu singkat tanpa ada berita material. Dalam hasil screening, saham-saham seperti ini kerap muncul di daftar top gainers/losers atau menunjukkan lonjakan volume perdagangan tiba-tiba. Bagi trader yang belum berpengalaman, melihat saham naik 20-30% sehari dengan volume meledak bisa tampak seperti signalkesempatan emas. Kenyataannya, itu seringkali umpan dari pemain besar untuk menjebak pembeli di harga tinggi.
Otoritas bursa (BEI) bahkan rutin mengeluarkan peringatan UMA (Unusual Market Activity) untuk pergerakan saham yang dianggap tidak biasa. Unusual Market Activity adalah aktivitas perdagangan atau pergerakan harga saham yang abnormal dibandingkan pola biasanya, misalnya kenaikan harga/volume mencolok tanpa ada berita jelas . Peringatan UMA pada intinya memberitahu investor bahwa “angka” kenaikan yang terjadi perlu diwaspadai, bisa jadi indikasi permainan harga. Saham gorengan bukan sinyal beli, melainkan sinyal waspada – sayangnya masih banyak investor ritel yang justru berbondong-bondong masuk ketika mendengar suatu saham kena UMA. Alih-alih menjauhi, mereka tergiur melihat grafik meroket dan berharap “pasti naik lagi”, padahal kenaikan tersebut sering tanpa dasar fundamental.

Motif di balik pergerakan tipuan ini umumnya berasal dari spekulan berkantong tebal (market makers atau sering disebut bandar) yang mengincar keuntungan cepat. Pelaku bisa mengerek harga saham kecil dengan modal besar, menciptakan euforia kenaikan (misalnya membeli di harga tinggi terus sehingga price ARA beberapa kali). Ini membuat indikator teknikalnya “berkilau” (breakout, volume spike, dll) dan menarik minat investor ritel yang takut ketinggalan (FOMO). Setelah banyak ritel masuk, pelaku lalu melepas barang (jual besar-besaran) sehingga harga rontok dan para pembeli terakhir terperangkap di puncak. OJK mengakui praktik “goreng-menggoreng saham” ini nyata terjadi karena memang ada permintaan dari investor ritel yang tergiur keuntungan instan . Bahkan meski berkali-kali diingatkan, saham yang bergerak tak wajar tetap saja diincar oleh investor kecil/pemula demi capital gain singkat.

Perlu ditekankan, saham gorengan tidak selalu emiten kecil yang tidak dikenal. Beberapa saham perusahaan besar atau BUMN pun pernah dimainkan spekulan. Contohnya saham farmasi BUMN seperti KAEF dan INAF sempat jadi komoditas gorengan (harga naik-turun ekstrem) di tengah sentimen pandemi, meski fundamentalnya tak sefantastis kenaikannya. Jadi, jangan terpaku pada nama besar, lihatlah data objektif. Jika sebuah saham muncul di screener dengan kenaikan harga luar biasa tetapi kamu tidak menemukan berita fundamental positif yang sepadan, itu patut dicurigai. Begitu pula bila tiba-tiba volume perdagangan melonjak ratusan persen padahal perusahaan tidak merilis kabar apapun bisa jadi ada “bandar” yang sedang bermain.
Bagi investor/trader, mengenali sinyal palsu pada data teknikal itu krusial. Beberapa indikator potensi “noise” yang perlu diwaspadai antara lain:
- Kenaikan harga mendadak tanpa volume yang mendukung atau tanpa news – jika screener menunjukkan saham naik banyak tapi volume tipis atau tak ada alasan jelas, besar kemungkinan pergerakan itu tak bertahan lama.
- Lonjakan volume tiba-tiba di saham tidur – saham yang biasanya sepi mendadak aktif masif bisa pertanda pump and dump. Cek apakah ada katalis nyata; bila tidak, mungkin hanya ulah spekulan yang ingin menarik perhatian.
- Polanya berulang – banyak saham gorengan menunjukkan pola serupa: naik cepat kemudian anjlok cepat. Dengan pengalaman, pola ini bisa dikenali di grafik. Jangan hanya terpukau angka % kenaikan harian, lihat juga histori pergerakannya.
- Masuknya ke daftar UMA – ini sinyal resmi dari bursa agar investor berhati-hati. Seperti disebut sebelumnya, UMA bukan lampu hijau, tapi alarm kuning. Jika saham yang muncul di screeners Anda sedang berstatus UMA, pertimbangkan untuk menunda aksi sampai situasi jelas.
Singkatnya, hasil screening teknikal harus disaring lagi dengan akal sehat dan info fundamental. Jika suatu pergerakan harga tidak didasari informasi atau nilai intrinsik, angkanya kemungkinan “tipu-tipu” belaka. Investor berpengalaman justru sering menghindari saham-saham yang terlalu liar gerakannya, karena sadar risikonya tinggi dan rentan dipermainkan.
Data-data apa saja yang sering mengandung “angka tipu-tipu”? Dari uraian di atas, beberapa output screening yang patut dicurigai antara lain:
- Valuasi ekstrem (terlalu murah) – misal PER jauh di bawah rata-rata industri, PBV < 1 untuk perusahaan yang terus merugi, atau EV/EBITDA sangat rendah. Harus dicek, apakah murah karena undervalued atau memang bisnisnya buruk (value trap). Contoh: banyak saham sektor basic materials tradisional diperdagangkan pada rasio rendah karena pertumbuhannya stagnan .
- Growth luar biasa – saham dengan pertumbuhan pendapatan atau laba sangat tinggi dari tahun ke tahun. Pastikan itu sustainable. Cek komponen one-off, cek apakah tahun dasar sebelumnya terlalu kecil (base effect). Contoh: perusahaan pulih dari rugi jadi laba sering terlihat %growth sangat besar, tapi profit level absolutnya mungkin masih rendah.
- Margin profit sangat tinggi tiba-tiba – bisa jadi karena faktor temporer (harga komoditas spike, kurs, dll). Waspadai reversion to mean.
- Dividend yield tinggi sekali – bisa disebabkan harga saham baru anjlok (sehingga yield % tampak besar terhadap dividen tahun lalu, padahal bisa jadi perusahaan ke depan tidak mampu bayar dividen sebesar itu lagi).
- Unusual Volume & Price – dalam screening teknikal, saham dengan lonjakan volume ribuan persen atau yang naik puluhan persen dalam sehari tanpa news. Data transaksi seperti itu sering muncul di fitur Top Gainer/Loserdan perlu diwaspadai sebagai kemungkinan gorengan. Juga perhatikan indikator volatilitas – saham yang ARB beruntun lalu ARA beruntun jelas dikendalikan pihak tertentu.
Kesimpulan
Di pasar modal, investor dituntut memilah antara signal dan noise. Kasus-kasus di atas mengingatkan kita bahwa tidak semua angka hasil screening layak ditindaklanjuti – beberapa justru “angka tipu-tipu” yang bisa menyesatkan analisis. Saham dengan angka-angka fantastis (valuasi super murah, pertumbuhan luar biasa, kenaikan harga drastis, dll.) harus dicermati kritis: Apakah ada fundamental yang mendukung? Apakah itu berkelanjutan? Jika tidak, mungkin itulah noise yang sebaiknya diabaikan agar fokus investasi tetap pada hal-hal yang material.
Bukan berarti investor harus sinis terhadap semua data – intinya, lakukan filter dan pendalaman secukupnya. Screening adalah langkah awal penyaringan peluang, tetapi hasil screening bukan keputusan final. Setelah menyaring kasar, lakukan analisis lanjutan pada kandidat yang menjanjikan, dan buang hasil-hasil outlier yang terindikasi “tipu-tipu”. Dengan pendekatan ini, investor dapat menghemat waktu dan energi, tidak terjebak meneliti setiap angka yang muncul di layar.
Sebagai penutup, disiplin menganalisis fundamental dan memahami konteks tetap kunci utama. Seperti dikatakan para ahli, penting untuk benar-benar mengenali fundamental perusahaan dan faktor-faktor yang memengaruhi kinerjanya sebelum berinvestasi . Jangan mudah termakan cerita indah angka-angka jika tidak didukung bukti konkret. Pasar saham kadang memberikan umpan-umpan palsu, tetapi investor yang teliti dan skeptis secara sehat akan lebih mampu menghindari jebakan. Dengan tidak malas melakukan analisis, menghindari value trap dan angka menipu bukanlah hal sulit. Tetaplah berpegang pada data yang valid dan strategi yang teruji, maka portofolio Anda akan lebih terjaga dari risiko “anggaran tertipu”. Ingat, investasi sukses bukan soal mengejar semua angka, tapi memilih angka yang tepat.