Eksplorasi analisis, insight, dan informasi terkini dari Cuantara.com.
Disini kita akan mengurai apa itu data fundamental, di mana mencarinya, bagaimana menggunakannya untuk menyaring saham, serta kesalahan yang perlu dihindari agar keputusan investasimu tidak jadi perjudian terselubung.
Setiap orang suka cerita cuan rill, tetapi tidak semua siap menghadapi harga turun tajam. Di dunia investasi, imbal hasil atau return selalu datang bersama ketidakpastian atau risiko. Analogi sederhana, semakin tinggi gunung yang ingin kamu daki, semakin curam jalurnya.
Sebelum kamu terjun mengejar cuan di saham, atau reksa dana, pastikan kamu punya pondasi keuangan yang kuat. Pondasi ini ibarat lantai beton pada rumah. Secara teknis bangunan tanpa fondasi, secanggih apa pun bakal roboh saat diterpa badai. Sayangnya, banyak orang tergoda cerita profit puluhan persen, lalu lompat ke investasi tanpa persiapan. Akibatnya?
Kamu mungkin sudah sering dengar saran “jangan taruh semua telur di satu keranjang”. Kalimat itu mengingatkan pentingnya strategi. Namun, strategi apa pun akan rontok kalau kamu belum tahu profil investasi diri sendiri.
Di media sosial, cerita cuan rill dari saham sering melintas di berandamu: screenshot portofolio hijau, klaim untung puluhan persen dalam hitungan hari, atau bisikan “kode ini bakalan to the moon”. Banyak orang akhirnya lompat ke pasar saham dengan harapan instan. Tanpa pedoman, mereka membeli di puncak euforia, lalu panik saat harga berbalik turun. Portofolio merah, rasa percaya diri ambruk, dan kesimpulan cepat pun muncul: “Investasi saham itu mirip judi.” Padahal, persoalan utamanya bukan pada instrumen, melainkan ketiadaan filosofi investasi kompas rill yang mengarahkan setiap keputusan finansial.
Reksadana adalah kumpulan dana dari banyak orang yang dikelola oleh manajer investasi buat dibelikan aset-aset keuangan kayak saham, obligasi, atau deposito. Jadi kalau kamu beli reksadana, kamu nggak beli saham langsung, tapi nitipin dana ke profesional yang ngerti caranya muter uang biar bisa berkembang.
Pasar modal adalah tempat bertemunya pihak yang membutuhkan dana (emiten) dengan pihak yang memiliki dana (investor). Di sinilah proses jual beli surat berharga seperti saham, obligasi, reksa dana, dan instrumen keuangan jangka panjang lainnya terjadi. Tujuannya adalah untuk mendukung pembiayaan jangka panjang.
PT Mitra Adiperkasa Tbk (kode saham: MAPI) kembali menarik perhatian pelaku pasar setelah mengumumkan dividen tunai sebesar Rp10 per saham untuk tahun buku 2024.
HMETD adalah singkatan dari Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu. Kalau kamu pakai hak itu, kamu bisa tambah kepemilikan. Kalau nggak mau, bisa juga dijual ke orang lain di pasar.
Di Amerika Serikat, indeks S&P 500 mencatatkan kenaikan sekitar +7% hingga 25 Juli 2025. Lonjakan ini ditopang oleh pertumbuhan laba korporasi yang solid, terutama dari sektor teknologi dan perusahaan yang terpapar tren kecerdasan buatan (AI).
Dalam konteks yang lebih luas, arus keluar ini tidak berdiri sendiri. Ia mencerminkan kombinasi tekanan global, dinamika fiskal dalam negeri, serta evaluasi ulang terhadap valuasi pasar dan likuiditas.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat lonjakan tajam sebesar 3,17% sepanjang pekan perdagangan 21–25 Juli 2025. Dibuka dari posisi 7.311 pada Jumat sebelumnya, indeks ditutup di 7.543 pada akhir pekan ini menjadi level penutupan tertinggi sepanjang tahun berjalan.